Bisnis.com, JAKARTA — Peningkatan polusi gas rumah kaca dari bahan bakar fosil khususnya di Amerika Serikat merupakan faktor utama yang mendorong peningkatan emisi global pada paruh pertama tahun ini.
Berdasarkan data Climate Trace, emisi karbon dalam enam bulan pertama tahun 2025 mencapai 30,99 miliar ton setara karbon dioksida. Total tersebut 0,13% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Climate Trace, operasi bahan bakar fosil merupakan pendorong pertumbuhan emisi yang paling signifikan dan AS menyumbang lebih dari separuh peningkatan tersebut. Emisi di AS naik 1,4% pada paruh pertama tahun ini. Brasil, yang menjadi tuan rumah KTT iklim COP30 akhir tahun ini juga mengalami peningkatan emisi sebesar 1,2% pada periode tersebut.
Emisi di India, Uni Eropa, dan Indonesia semuanya naik kurang dari 1% dalam enam bulan pertama. Uni Eropa yang memiliki beberapa aturan iklim paling ketat di dunia menunjukkan peningkatan terkecil. Kemudian, di Cihna total emisi sedikit menurun.
Beberapa negara pencemar utama mengalami peningkatan emisi pada paruh pertama tahun 2025 meskipun China dan sektor energi global mencatat sedikit penurunan.
Presiden Donald Trump pada bulan April menandatangani serangkaian tindakan yang bertujuan untuk memperluas produksi batu bara di AS dan telah mendorong upaya untuk meningkatkan produksi minyak dan gas alam. Hal ini dilakukan dengan menegaskan kapasitas tambahan diperlukan untuk meningkatkan daya saing dan memenuhi pusat data yang membutuhkan energi yang besar.
Baca Juga
Merujuk laporan Badan Informasi Energi, konsumsi batu bara AS naik sekitar 18% pada kuartal pertama dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Permintaan gas alam juga lebih tinggi dalam lima bulan pertama.
Meskipun emisinya menurun, namun China tetap menjadi pencemar terbesar di dunia. Angka-angka Climate Trace sejalan dengan analisis Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih yang memperkirakan emisi karbon dioksida negara itu turun 1% pada periode yang sama karena produksi baja dan semen yang lebih lambat dan karena energi terbarukan membantu membatasi konsumsi batu bara.
Namun, analisis Climate Trace menunjukkan emisi Tiongkok sedikit meningkat pada bulan Juni, yang menggarisbawahi keraguan apakah negara tersebut yang tahun lalu menyetujui pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara dalam jumlah besar telah mencapai puncak polusi.
Sementara itu, Direktur Perencanaan Ekonomi, Energi, dan Strategi Exxon Mobil Corp Chris Birdsall mengatakan target nol bersih untuk sektor energi global kemungkinan akan terus bergeser setelah tahun 2050 karena konsumen menolak biaya tinggi dan kebangkitan permintaan batu bara, bahan bakar fosil paling berpolusi.
Emisi global akan turun seperempatnya pada 2050, jauh di bawah penurunan lebih dari dua pertiga yang dibutuhkan untuk memenuhi target panel antar pemerintah tentang perubahan iklim.
Proyeksi emisi untuk pertengahan abad hampir 4% lebih tinggi daripada yang diproyeksikan perusahaan minyak besar itu tahun lalu karena lebih banyak batu bara digunakan untuk mendukung daya intermiten dari angin dan matahari, sedangkan penjualan kendaraan listrik yang melambat di AS dan Eropa mendukung permintaan minyak.
"Jika dunia mencoba memasukkan beberapa sumber yang lebih mahal ini terlalu cepat, akan ada reaksi dari konsumen. Dalam masyarakat demokratis yang menerapkan pemilu, pemilu memiliki konsekuensi. Kita dapat melihat perubahan politik yang kemudian dapat memperlambat kemajuan," ujarnya dilansir Bloomberg, Jumat (29/8/2025).
Permintaan minyak kemungkinan akan mencapai puncaknya sekitar tahun 2030, kemudian mencapai titik terendah dan tetap di atas 100 juta barel per hari hingga tahun 2050. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan minyak akan mencapai 104,4 juta barel per hari pada tahun 2026 dengan pertumbuhan yang melambat dari level historis.
Perubahan terbesar dari prospek energi tahun lalu adalah konsumsi batu bara yang naik ke rekor 8,8 miliar ton pada 2024. Meskipun banyak negara berkomitmen untuk menghentikan penggunaan batu bara, namun Exxon memperkirakan bahan bakar fosil paling berpolusi ini akan menyumbang 14% dari bauran energi global pada tahun 2050, sebagian karena kemampuannya menyediakan listrik saat angin tidak bertiup dan matahari tidak bersinar.
"Kita melihat dunia menggunakan lebih banyak batu bara untuk pembangkit listrik dan ini adalah kisah tentang menurunnya efisiensi pembangkit listrik karena pembangkit listrik batu bara harus melakukan siklus untuk menyeimbangkan energi terbarukan," kata Birdsall.
Exxon juga merevisi perkiraan permintaan gas alamnya yang diperkirakan akan meningkat lebih dari 20% pada pertengahan abad ini karena meningkatnya penggunaan listrik global.
Perusahaan minyak terbesar Amerika Serikat ini sering kali menegaskan mereka melihat masa depan yang panjang bagi bahan bakar fosil dan dunia tidak berada di jalur menuju nol emisi pada 2050. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan ini semakin vokal menentang kebijakan dekarbonisasi yang diklaim meningkatkan biaya penyediaan energi terutama di Eropa.
Di sisi lain, para aktivis mengkritik proyeksi Exxon karena terlalu pesimis menyatakan skenario yang menunjukkan tingginya penggunaan bahan bakar fosil di masa depan dapat memperlambat aksi iklim membuat dunia menghadapi suhu yang jauh lebih tinggi dan dampaknya termasuk gelombang panas dan kebakaran hutan yang lebih dahsyat, curah hujan yang lebih tinggi, dan naiknya permukaan laut.