Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

OJK Soroti Tantangan Bursa Karbon Indonesia, Transaksi Masih Terbatas

Keterbatasan pasokan dan permintaan disebut OJK menjadi salah satu tantangan implementasi bursa karbon di Indonesia
Ilustrasi kredit karbon
Ilustrasi kredit karbon

Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti sejumlah tantangan dalam implementasi perdagangan bursa karbon sejak pertama meluncur pada September 2023.

Kepala Departemen Pemeriksaan Khusus, Pengawasan Keuangan Derivatif, Bursa Karbon, dan Transaksi Efek OJK I Made Bagus Tirthayatra mengemukakan salah satu tantangan tersebut adalah transaksi yang masih minim. Hal ini terutama disebabkan oleh keterbatasan pasokan dan permintaan kredit karbon (carbon credit).

“Perlu ada dukungan dari sisi pasokan dan permintaan, serta regulasi perpajakan,” kata I Made di sela-sela Investing On Climate Editors’ Choice Award 2024, Rabu (4/12/2024).

I Made tidak memperinci dukungan semacam apa yang bisa diberikan OJK. Namun ia mengatakan bahwa pengembangan bursa karbon memerlukan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga.

“OJK dalam hal ini punya peran mendorong perdagangan di pasar sekundernya. Kami juga berperan menyiapkan infrastruktur pengawasan yang memadai dan bisa memberikan perlindungan kepada investor,” lanjut I Made.

Dia mengemukakan kerja sama dan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga diperlukan untuk menciptakan sistem keuangan berkelanjutan yang solid. Bagaimanapun, transaksi di bursa karbon merupakan salah satu mekanisme pembiayaan inovatif yang bisa digunakan untuk mendukung target nasional yang sejalan dengan komitmen global dalam memitigasi dampak perubahan iklim.

“Pembiayaan inovatif seperti green bond, sustainability bond, reksa dana dan sebagainya merupakan kunci untuk meningkatkan efisiensi dan aksesibilitas pembiayaan berkelanjutan,” kata dia.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), volume karbon yang diperdagangkan sepanjang November 2024 berjumlah 1.661 ton CO₂e. Volume ini turun 99,43% dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang menembus 290.885 ton CO₂e.

Adapun nilai transaksi di bursa karbon sepanjang November 2024 bertengger di Rp97,96 juta. Sementara itu, nilai transaksi bulan sebelumnya mencapai Rp13,39 miliar.

Secara total, aktivitas perdagangan di bursa karbon sampai pengujung November 2024 mencapai 412.186 ton CO₂e dengan nilai transaksi Rp19,64 miliar. Adapun volume transaksi perdagangan bursa karbon Indonesia telah mencapai 613.894 ton CO2e dengan nilai transaksi Rp37,06 miliar, sejak diluncurkan setahun lalu, pada 26 September 2023.

Terlepas dari torehan ini, nilai transaksi di bursa karbon cenderung lebih rendah daripada realisasi sepanjang 2023. Di tahun pertamanya, nilai transaksi menembus Rp30,91 miliar.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper