Bisnis.com, JAKARTA – Kurang lebih 20 tahun yang lalu, CEO BP John Browne mengumumkan rebranding perusahaan dengan mengubah inisial terkenal itu menjadi "Beyond Petroleum". Saat itu, BP Ingin menjadi produsen migas dengan menggunakan teknologi yang lebih ramah lingkungan.
Semuanya berubah. Perusahaan energi raksasa asal Inggris ini kembali mengubah strategi bisnis mereka secara fundamental untuk memangkas investasi energi terbarukannya dan sebagai gantinya fokus pada peningkatan produksi minyak dan gas (migas).
CEO BP Murray Auchincloss berkomitmen meningkatkan investasi migas menjadi US$10 miliar per tahun dan mendorong produksi menjadi 2,3–2,5 juta barel minyak mentah pada 2030.
"Kami akan meningkatkan investasi dan produksi hulu untuk memungkinkan kami menghasilkan energi dengan margin tinggi selama bertahun-tahun mendatang" ujarnya, dalam laman resmi perusahaan, Rabu (26/2/2025).
Strategi putar balik ini memang mengejutkan, mengingat lima tahun lalu, BP masih mendorong target ambisius memangkas produksi migas pada 2030 sambil meningkatkan investasi di bidang energi berbasis surya dan bayu secara massif.
Di sisi lain, pada 2001, skeptisisme atas komitmen BP mendorong semangat ‘hijau’ tak dapat dihindarkan.
Baca Juga
Mengutip laporan Guardian, kampanye John Browne menghadapi risiko perubahan dengan rebranding nama perusahaan menjadi "Beyond Petroleum" yang oleh beberapa orang disebut sebagai greenwashing.
Saat ini, Murray Auchincloss dengan lantang mengakui BP akan selektif dalam investasi yang ada kaitannya dengan transisi energi ke energi terbarukan. BP memangkas pendanaan menjadi antara US$1,5 miliar dan US$2 miliar per tahun. Murray juga mengatakan akan akan memfokuskan bisnis hilir migas.
BP menjadi salah satu dari beberapa perusahaan di industri energi yang kembali fokus pada produksi migas. Merujuk laporan BBC, perubahan fundamental bisnis disebabkan karena kinerja BP yang buruk telah memicu spekulasi bahwa perusahaan tersebut mungkin menjadi target akuisisi.
Mengutip BBC, kinerja keuangan yang optimal karena pendapatan yang masuk ke energi terbarukan lebih sedikit daripada migas. Pada saat yang sama, beberapa pemegang saham BP tidak sabar saat melihat Shell menghasilkan laba dua kali lipat sementara investor Exxon menerima laba empat kali lipat.
“Dengan demikian, teriakan kekecewaan dari mereka yang peduli terhadap iklim diredam oleh mereka yang menuntut agar BP melakukan apa yang paling diketahuinya, mengebor migas dan mengembalikan keuntungan tersebut kepada pemegang saham,” tulis laporan BBC, Rabu (26/2/2025).
Reaksi Dingin Investor
Strategi mengatur ulang bisnis BP diproyeksi mendapat sedikit pujian dari investor. Mengutip Bloomberg, Saham perusahaan parkir di level terendah sejak 6 Februari, turun 1,4% pada 430,9 pence dalam perdagangan London pada Rabu (26/2).
"Bagi kami, sebagian besar rilis tersebut tampaknya merupakan keputusan BP yang tepat untuk jangka panjang, tetapi mungkin tidak menyenangkan investor hari ini," kata analis RBC Biraj Borkhataria, dilansir Bloomberg.
Di sisi lain, tersiar kabar bahwa tidak semua pemegang saham setuju dengan perubahan strategi radikal BP kembali ke migas.
Puluhan dari mereka menandatangani surat yang menyatakan kekhawatiran tentang peningkatan produksi bahan bakar fosil dan ingin memiliki suara dalam arah perjalanan perusahaan.
Banyak yang menduga, langkah BP mengikuti strategi Shell dan perusahaan Norwegia Equinor yang mengurangi rencana untuk berinvestasi dalam energi hijau. Sementara itu, komentar "drill baby drill" dari Presiden AS Donald Trump telah mendorong investasi dalam bahan bakar fosil.