Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PBB Ungkap Kawasan Asia Pasifik Alami Keterlambatan 32 Tahun Capai Target SDG, Ini Penyebabnya

Menlu Retno Marsudi mengatakan bahwa berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ada keterlambatan Kawasan Asia Pasifik untuk mencapai SDG.
Ilustrasi bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dok Times Now
Ilustrasi bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dok Times Now

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengatakan bahwa berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ada keterlambatan Kawasan Asia Pasifik untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan. 

Dia menekankan bahwa Indonesia menyerukan pentingnya inovasi digital untuk mengatasi hal tersebut, melalui pengembangan digital dalam aspek pemerintahan, ekonomi dan masyarakat.

"Laporan PBB mencatat adanya keterlambatan Kawasan Asia Pasifik untuk capai SDG sampai 32 tahun hingga 2062 akibat Pandemi Covid-19 dan konflik di berbagai belahan dunia," katanya, dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (25/4/2024). 

Lebih lanjut, untuk Kawasan Asia Pasifik, dalam pernyataan nasional Indonesia, Retno menyampaikan tiga langkah kerja sama dalam kerangka UN-Economic and Social Commission for Asia Pacific (UNESCAP), khususnya untuk mendorong inovasi digital secara inklusif di kawasan dalam mencapai target-target SDG. 

"Pertama, pengembangan roadmap digital terintegrasi. Landskap digital di Kawasan Asia Pasifik saat ini sangat terpecah. Perbedaan kesiapan nasional dan regional serta kapasitas regulasi menciptakan halangan dalam mencapai inovasi digital regional," ujarnya. 

Maka dari itu, menurutnya, Asia Pasifik perlu mengembangkan roadmap pengembangan digital, untuk fasilitasi pertukaran teknologi dan kebijakan, menjaring potensi negara-negara, serta mengharmonisasikan inisiatif yang ada di Kawasan saat ini seperti di Asean dan APEC.

Kedua, dia menyampaikan pentingnya mempromosikan inklusivitas digital untuk jembatani digital divide, dan menggarisbawahi adanya gender gap penggunaan internet di Kawasan.

"Pengguna internet perempuan jumlahnya lebih sedikit dari pengguna internet laki-laki. Gap-nya mencapai 264 juta jiwa, atau sekitar 6%. Selain itu, kualitas internet juga tidak merata, dan ada juga gap akses internet antara wilayah pedesaan dan terpencil dengan wilayah perkotaan," ucapnya. 

Adapun menurutnya, perlu melakukan berbagai inovasi digital yang inklusif, termasuk dengan berinvestasi di berbagai fintech dan start-up yang dipimpin oleh perempuan, mendorong peningkatan infrastruktur digital, dan memperluas akses untuk pelatihan literasi digital.

Kemudian, ketiga, dia menegaskan pentingnya memastikan penggunaan transformasi teknologi untuk menjaga perdamaian dan kesejahteraan.

"Saya sampaikan bahwa emerging technologies seperti AI telah memberi warna baru pada hubungan antara teknologi dan geopolitik. Pengunaannya dapat menjadi force for good atau sebaliknya menjadi niat jahat yang dapat memperdalam rivalitas global," tambahnya. 

Selain itu, dia juga menekankan pentingnya regional governance untuk cegah penggunaan yang salah, dan memastikan kontribusi teknologi untuk pengembangan ekonomi berkelanjutan yang dapat, pada akhirnya, meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Seperti diketahui, Menlu RI berkunjung ke Bangkok, Thailand untuk menghadiri Sidang Komisi ke 80 UN-Economic and Social Commission for Asia Pacific atau UNESCAP, pada 22 April 2024.

Sidang Komisi ke 80 UNESCAP kali ini bersifat strategis dengan mengangkat tema “Leveraging Digital Innovation for Sustainable Development in Asia and the Pacific". 

Pertemuan ini menjadi momentum kerja sama negara-negara di Kawasan Asia Pasifik untuk mendorong pemanfaatan inovasi digital guna akselerasi implementasi Agenda for Sustainable Development 2030.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Erta Darwati
Editor : Muhammad Ridwan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper

Terpopuler