Bisnis.com, JAKARTA — Kota-kota besar dunia termasuk Indonesia tengah menghadapi permasalahan urbanisasi. Pada tahun ini, sebesar 60% dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 281 juta tinggal di kawasan perkotaan. Jumlah masyarakat yang tinggal di perkotaan diproyeksikan meningkat mencapai 70% hingga 80% pada 2024.
Perpindahan orang dari daerah ke kota tanpa perencanaan matang, laju urbanisasi dapat memicu masalah baru, seperti kemacetan, kepadatan, kesenjangan infrastruktur, kekurangan hunian, hingga permukiman kumuh. Kondisi semakin pelik karena emisi karbon di perkotaan yang meningkat bisa mendorong dampak perubahan iklim, seperti bencana.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan perlu langkah konkret untuk mengatasi permasalahan urbanisasi. Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan di tingkat lokal lainnya dapat semakin berperan aktif dalam pembangunan perumahan berbasis kebutuhan rakyat. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa ketangguhan dimulai dari unit terkecil, yaitu rumah dan keluarga.
"Perkuat kapasitas kelembagaan, kewenangan dan perangkat kebijakan daerah untuk merancang rencana adaptasi iklim lokal yang mengintegrasikan rumah aman dan terjangkau dengan akses terhadap pekerjaan, pendidikan, layanan kesehatan, dan transportasi di wilayahnya," ujarnya dilansir Antara, Jumat (29/8/2025).
Lalu, meningkatkan investasi pada infrastruktur berkelanjutan dan ramah iklim. Langkah ini bukan hanya mengurangi risiko dan menurunkan emisi tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat kota.
"Jaga keseimbangan ekosistem yang terintegrasi dengan pembangunan kota yang akan semakin pesat, koridor smart transport di kota-kota yang terus tumbuh," katanya.
Baca Juga
Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti Yayat Supriatna menjelaskan fenomena urban sprawl atau perkembangan kota yang tidak terstruktur mempengaruhi pembangunan kota-kota besar di Indonesia.
"Akibatnya muncul kemacetan, kepadatan, pengambilan air tanah berlebihan, sehingga kota ini makin lama makin crowded. Itu mempengaruhi perencanaan dan pemanfaatan ruang yang tidak bersinergi," ucapnya.
Urban sprawl ekspansi kota yang tak terkendali menjadi tantangan bagi pembangunan perkotaan di Indonesia. Lonjakan ini mendorong ekspansi kota ke daerah pinggiran yang sering kali tanpa infrastruktur yang memadai. Urbanisasi yang cepat ini menjadi urgensi karena tanpa pengelolaan yang baik, kota-kota besar akan semakin padat, sementara daerah pinggiran kehilangan lahan hijau dan produktif.
Pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan perencanaan yang baik telah menyebabkan pembangunan permukiman yang tidak merata dan tidak terintegrasi. Hal ini menyebabkan munculnya kawasan kumuh baru serta memperburuk masalah kemacetan dan polusi lingkungan.
"Penduduk di pinggiran kota juga seringkali kesulitan mengakses fasilitas publik seperti transportasi, sekolah, dan layanan kesehatan," tuturnya.
Ketidakseimbangan akses ini menjadi urgensi karena dapat memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi antara penduduk pusat kota dan pinggiran. Minimnya fasilitas publik di daerah pinggiran membuat penduduk harus bergantung pada pusat kota.
Laju urbanisasi yang terus meningkat mendorong permintaan hunian dan fasilitas terintegrasi di wilayah perkotaan. Kebutuhan hunian dan fasilitas yang terintegrasi di wilayah padat penduduk mendorong konsentrasi pasar dan mobilitas pelanggan yang efisien menjadikan kota terpadu sebagai lahan ekspansi yang rasional bagi pelaku usaha.
PT Summarecon Agung Tbk merupakan pengembang nasional yang konsisten berkomitmen mengembangkan kawasan terpadu. Emiten bersandi SMRA ini tercatat telah mengembangkan 9 kota terpadu hingga menginjak usianya yang ke-50.
Executive Director PT Summarecon Agung Tbk Magdalena Juliati mengatakan melalui kawasan hunian terpadu, Summarecon menciptakan ekosistem yang siap tumbuh. Adapun Kota terpadu yang paling menggeliat di antaranya Summarecon Kelapa Gading, Summarecon Bekasi, dan Summarecon Mutiara Makassar.
Geliat pengembangan Summarecon Bekasi sebagai proyek kota terpadu mengubah utara Kota Bekasi menjadi kawasan hunian dan komersial metropolitan yang berkembang. Summarecon Bekasi berjarak sekitar 21 kilometer di timur Jakarta dengan lahan lebih dari 500 hektare diposisikan sebagai kota satelit yang memadukan sektor perdagangan dan industri.
Infrastruktur kunci seperti Flyover KH Noer Ali sepanjang kurang lebih 750 meter mengikat pergerakan dari utara ke selatan, sedangkan area mal, perkantoran, hotel, dan sekolah di Summarecon Bekasi membentuk fondasi trafik yang stabil.
"Saat ini Summarecon Bekasi sudah menjadi ikon dan destinasi bukan hanya bagi warga Bekasi tetapi juga kota-kota sekitarnya. Salah satunya sebagai destinasi pendidikan karena fasilitasnya sudah lengkap," ujarnya.
Kemudian, Summarecon Kelapa Gading tumbuh dari 10 hektare pada 1975 menjadi 550 hektare kawasan modern. Hingga kini, kawasan ini menaungi sekitar 30.000 rumah, 2.850 apartemen, dan 2.150 ruko. Sentra Kelapa Gading menghadirkan Mal Kelapa Gading, La Piazza, Gading Food City, hotel Harris dan Pop ini dengan kunjungan mencapai 38 juta orang pada 2025 menjadikannya salah satu destinasi tersibuk di Jakarta sekaligus magnet bisnis.
Di Indonesia Timur, Summarecon Mutiara Makassar dikembangkan sebagai Aeroport City seluas 400 hektare yang memanfaatkan kedekatannya dengan bandara dan pelabuhan untuk menggerakkan logistik dan perdagangan. Penataannya mencakup gudang dan pusat logistik, hotel dan convention hall, kawasan perkulakan bahan bangunan, elektronik, furnitur, tekstil, dan fasilitas esensial seperti rumah sakit dan sekolah.
Prospek berbisnis di kota terpadu cukup besar karena menawarkan target pasar yang jelas sekaligus terintegrasi. Selain itu, terdapat ekosistem yang saling terintegrasi antara lain food and beverage, area komersial, pusat belanja, dan pendidikan yang dapat mendorong tingkat kunjungan.
Dalam membangun kota terpadu, Summarecon menjamin kualitas infrastruktur jalan, listrik, internet stabil, pengelolaan kawasan dan keamanan. Selain itu, pembangunan kawasan hunian juga berkomitmen mengusung konsep ruang terbuka hijau dan keberlanjutan.
"Peluang bisnis kawasan terpadu cukup luas. Dari sektor makanan dan minuman, layanan sehari-hari, dan hiburan. Kota terpadu itu mesin pertumbuhan dimana infrastruktur dan fasilitas pendukung ini saling terintegrasi ekosistemnya," ucapnya.
Sementara itu, Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mengatakan investasi dan inovasi menjadi kunci masa depan properti yang berkelanjutan
Menurutnya, investasi dan inovasi dalam sektor properti memiliki peran penting dalam membentuk pertumbuhan ekonomi dan pengembangan infrastruktur suatu negara. Model investasi yang dilakukan oleh suatu institusi sering kali berfokus pada pengelolaan aset dan optimalisasi nilai jangka panjang dari properti yang dimiliki.
Dengan strategi yang matang, maka investasi dapat meningkatkan daya saing pasar dan mempercepat pembangunan kawasan strategis yang berkelanjutan.
Dia menilai beberapa pengembang memilih untuk berinvestasi dalam berbagai jenis properti, seperti pusat perbelanjaan, perumahan, perhotelan, apartemen, perkantoran, kawasan industri, dan fasilitas logistik. Diversifikasi ini bertujuan untuk mengurangi risiko pasar dan memaksimalkan keuntungan dari berbagai sektor ekonomi.
"Pengelolaan aset yang baik menjadi kunci kesuksesan berinvestasi jangka panjang. Hal ini mencakup perawatan properti, renovasi berkala, dan strategi pemasaran yang tepat untuk menjaga tingkat hunian serta meningkatkan nilai properti dari waktu ke waktu," katanya kepada Bisnis.
Selain itu, pengembang juga perlu melakukan pengembangan infrastruktur di sekitarnya. Dengan adanya pembangunan jalan, transportasi publik, dan fasilitas umum maka nilai properti dapat meningkat serta menciptakan ekosistem bisnis yang lebih dinamis.
"Inovasi dalam teknologi properti (proptech) kini menjadi faktor utama dalam strategi investasi. Penggunaan analisis data, kecerdasan buatan, dan Internet of Things (IoT) dalam pengelolaan properti dapat meningkatkan efisiensi operasional serta memberikan pengalaman yang lebih baik bagi penghuni dan pengguna properti," terangnya.
Syarifah menambahkan pada dasarnya strategi investasi dapat memberikan berbagai dampak terhadap sektor properti. Hal ini seperti revitalisasi kawasan perkotaan menjadi lebih modern dan terintegrasi dengan fasilitas umum. Lalu juga menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan meningkatkan daya tarik investasi.
Menurutnya, melalui strategi yang tepat, pengelolaan aset yang baik, dan pemanfaatan teknologi maka investasi dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik, efisien, modern, dan berkelanjutan.
"Didukung dengan terus berkembangnya kebutuhan hunian, fasilitas komersial, dan infrastruktur sehingga dipastikan investasi di sektor properti akan terus menjadi pilar penting dalam pembangunan kota-kota masa depan," tutur Syarifah.