Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

China Perdana Tawarkan Sovereign Green Bond, Incar 6 Miliar Yuan

Obligasi hijau berdaulat (sovereign green bond) pertama China ini rencananya akan dicatatkan di London
China akan menerbitkan sovereign green bond dengan target penggalangan dana 6 miliar yuan/Bloombegr
China akan menerbitkan sovereign green bond dengan target penggalangan dana 6 miliar yuan/Bloombegr

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah China memulai penjualan obligasi hijau berdaulat (sovereign green bond) pertamanya, dengan target penggalangan dana hingga 6 miliar yuan atau sekitar US$826 juta dalam penawaran yang rencananya akan dicatat di London.

Kementerian Keuangan China menetapkan panduan harga awal untuk obligasi berdenominasi yuan luar negeri dengan tenor tiga dan lima tahun. Seorang sumber yang dikutip Bloomberg menyebutkan masing-masing obligasi ini memiliki imbal hasil 2,3% dan 2,35%.

“Obligasi tersebut dapat diberi harga secepatnya hari ini,” tambah sumber tersebut.

Keputusan untuk mencatatkan obligasi hijau perdananya di London menjadi upaya terbaru China dalam membangun hubungan keuangan bilateral yang lebih erat dengan Inggris. Pemerintah China sebelumnya mengadakan konferensi investor di kota tersebut dan memiliki ambisi untuk menjangkau pasar Eropa sebagai pembeli terbesar utang berkelanjutan di dunia.

"Bahkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan seperti ini sangat luar biasa," kata Xuan Sheng Ou Yong, pemimpin investasi berkelanjutan untuk pendapatan tetap Asia-Pasifik di BNP Paribas Asset Management di Singapura. Ia menambahkan bahwa jarang sekali investor mendapatkan kesempatan untuk berdialog dengan kementerian keuangan China mengenai rencana ekonomi, strategi dekarbonisasi, dan kondisi ekonomi negara tersebut.

Rencana penerbitan surat utang ini pertama kali diumumkan pada Januari 2025 ketika Menteri Keuangan Inggris mengunjungi Beijing. Dalam pertemuan itu, kedua negara berjanji untuk meningkatkan kerja sama keuangan serta memperkuat kemitraan pasar modal.

Langkah tersebut juga sejalan dengan strategi China yang makin aktif menawarkan obligasi di pasar luar negeri, termasuk penjualan obligasi senilai US$2 miliar di Arab Saudi pada November dan penerbitan obligasi senilai 2 miliar euro (sekitar US$2,2 miliar) di Paris pada September 2024.

Meskipun penerbitan obligasi hijau global melambat dalam tiga kuartal terakhir 2024, entitas China tetap menjadi penerbit terbesar untuk instrumen ini sepanjang 2025, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg Intelligence.

Sebagai negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia, China diperkirakan mencapai puncak emisi gas rumah kaca lebih cepat dari tenggat waktu 2030. Negara tersebut menjalankan berbagai inisiatif untuk mempercepat dekarbonisasi, termasuk memperluas pasar perdagangan emisi karbon dan mempercepat adopsi energi terbarukan, kata Perdana Menteri Li Qiang dalam laporan kerja tahunan bulan lalu.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper