Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

China Bakal Denda Miliaran Peserta Pasar Karbon yang Nakal

China memperketat aturan bagi industri yang berpartisipasi di dalam pasar karbon Negeri Panda.
Pelabuhan Ningbo-Zhoushan adalah pelabuhan tersibuk ketiga secara global dalam hal pengiriman peti kemas pada 2020 dan tersibuk kedua di China setelah Shanghai, menurut publikasi maritim Lloyds List/ Bloomberg
Pelabuhan Ningbo-Zhoushan adalah pelabuhan tersibuk ketiga secara global dalam hal pengiriman peti kemas pada 2020 dan tersibuk kedua di China setelah Shanghai, menurut publikasi maritim Lloyds List/ Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas China memperketat aturan untuk para peserta pasar karbon sejalan dengan ambisi Negeri Panda memperbesar sistem yang saat ini mencakup lebih dari 2.200 utilitas.

Dilansir dari Bloomberg Senin (5/2/2024), regulasi terbaru untuk industri yang berpartisipasi di pasar karbon telah diteken oleh Perdana Menteri China Li Qiang pada Minggu (4/2/2024) waktu setempat. Kebijakan itu akan mulai berlaku terhitung pada Mei 2024.

Regulasi teranyar itu memberikan kewenangan yang lebih besar kepada Kementerian Ekologi dan Lingkungan China di tengah upaya mereka memperbesar sistem. Saat ini, skema itu telah mencakup sekitar 2.200 utilitas yang bertanggung jawab terhadap sekitar 4,5 miliar ton emisi gas rumah kaca per tahun.

Dalam aturan terbaru, peserta pasar karbon yang kedapatan menyembunyikan atau salah melaporkan data akan menghadapi denda sebanyak US$278.000 atau setara dengan sekitar Rp4,38 miliar. Selain itu, terdapat pengurangan izin jumlah polusi yang dapat dikeluarkan ke depan.

Pejabat lingkungan hidup China terus mempelajari rencana untuk memperluas pasar karbon ke industri tambahan termasuk produsen aluminium dan semen terhitung mulai 2024. Negeri Panda berambisi untuk mencakup 70% emisi pada 2030.

“Birokrat China juga mempertimbangkan perangkat lain termasuk perluasan perdagangan ke institusi keuangan, meluncurkan mekanisme lelang, dan memulai kembali skema carbon offset sukarela,” ujar Profesor Transisi Berkelanjutan Konstruksi dan Infrastruktur University College London Xi Liang dilansir dari Bloomberg, Selasa (5/2/2024).

Dalam perkembangan lain, China diketahui mulai mengalihkan fokus Belt and Road Initiative (BRI) ke sektor transisi energi. 

Program yang disebut-sebut Jalur Sutra Baru China bikinan Xi Jinping 1 dekade lalu itu, kini menjanjikan bantuan untuk proyek-proyek energi hijau di negara-negara berkembang. 

Delegasi dari negara-negara berkembang meninggalkan Belt and Road Forum di China minggu ini dengan mengantongi janji manis tersebut meskipun sejauh ini hanya ada sedikit proyek nyata. 

Selama 1 dekade terakhir, program ini telah merogoh kocek senilai sekitar US$1 triliun di lebih dari 150 negara dan 30 organisasi internasional. 

Dalam laporan terbarunya per Semester I/2023, Belt and Road Initiative mengeklaim bahwa keterlibatan China dalam investasi sektor energi hingga paruh pertama tahun ini merupakan yang paling ramah lingkungan.

Sepanjang 6 bulan pertama 2023, keterlibatan di sektor energi bernilai US$12,3 miliar, setara dengan capaian periode yang sama tahun lalu. Namun, jika dibandingkan dengan paruh pertama 2019 yang mencapai US$20 miliar, capaian Januari-Juni 2023 turun 40%. 

Adapun, dari total nilai tersebut, sekitar 41% disalurkan ke tenaga surya dan angin, ditambah 14% lainnya mengalir ke pembangkit listrik tenaga air. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper