Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Laporan Terbaru IEA: Teknologi Baru Hadapi Ketidakpastian Pasar

Teknologi energi baru yang sedang dikembangkan tampak lebih luas dan menjanjikan daripada sebelumnya.
Kendaraan listrik (EV) sedang diisi dayanya di jalan di Brussels, Belgia, pada hari Senin, 3 Maret 2025./ Bloomberg - Ksenia Kuleshova
Kendaraan listrik (EV) sedang diisi dayanya di jalan di Brussels, Belgia, pada hari Senin, 3 Maret 2025./ Bloomberg - Ksenia Kuleshova

Bisnis.com, JAKARTA — International Energy Agency (IEA) mengungkapkan bahwa industri inovasi energi global berada di titik menghadapi ketidakpastian pasar.

Mengutip laporan terbaru IEA, teknologi energi baru yang sedang dikembangkan tampak lebih luas dan menjanjikan daripada sebelumnya. Namun, terdapat tanda-tanda melambatnya momentum pembiayaan dan pergeseran prioritas yang perlu menjadi perhatian. 

Laporan berjudul Keadaan Inovasi Energi ini memberikan tinjauan menyeluruh tentang tren inovasi teknologi energi global. 

Berdasarkan kumpulan data yang mencakup lebih dari 150 sorotan inovasi dan survei terhadap hampir 300 praktisi dari 34 negara, temuan tersebut menunjukkan peran besar inovasi dalam mempercepat pencapaian strategi energi dan memperkuat industri nasional. 

Selain itu, laporan ini juga mengidentifikasi peluang penting untuk mempertahankan laju kemajuan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

"Inovasi adalah darah kehidupan sektor energi, terutama di masa sekarang yang bergerak cepat, dengan pergeseran campuran energi global dan tren besar seperti elektrifikasi yang memiliki dampak jauh,” ujar Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, dalam laporan yang diunggah di laman resmi IEA, Jumat (4/4/2025).

Inovasi energi telah memberikan manfaat besar dalam hal ekonomi dan ketahanan energi. Investasi dalam penelitian dan pengembangan (R&D) yang didorong oleh krisis energi pada 1970-an mempercepat pengembangan tenaga nuklir dan mengurangi ketergantungan negara-negara pada bahan bakar impor. 

Selain itu, teknologi baterai dan kendaraan listrik turut menurunkan ketergantungan impor minyak di Tiongkok, sementara inovasi teknologi serpih membuat Amerika Serikat beralih menjadi negara pengekspor energi bersih.

Meski demikian, beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan stabil dalam aktivitas inovasi, dengan belanja R&D energi publik dan perusahaan tumbuh pada tingkat rata-rata 6% per tahun. 

Namun, diperkirakan pada tahun lalu, pertumbuhan ini akan melambat di beberapa negara maju. Beberapa sektor, seperti otomotif dan energi terbarukan, telah melampaui pertumbuhan ekonomi dalam hal R&D, sementara sektor lain seperti semen, baja, penerbangan, dan pengiriman belum berinvestasi cukup besar dalam inovasi energi rendah emisi.

Pendanaan untuk teknologi energi juga menunjukkan perkembangan signifikan. Modal ventura (VC) untuk sektor energi melonjak lebih dari enam kali lipat dari tahun 2015 hingga 2022, setara dengan seluruh R&D energi publik yang digabungkan. 

Namun, tren investasi ini mengalami penurunan lebih dari 20% pada 2023 dan 2024, di tengah kondisi keuangan yang semakin ketat. 

"Berbagai teknologi kini tampaknya sudah mendekati pasar, menawarkan harapan untuk perbaikan dalam keamanan energi, keterjangkauan, dan keberlanjutan dalam jangka panjang. Namun, kita memerlukan investasi, baik dari sektor publik maupun swasta, untuk memperbesar solusi inovatif ini. Pengembalian investasi mungkin tidak selalu cepat, tetapi akan bertahan lama," katanya.

Sektor kecerdasan buatan (AI) menjadi satu-satunya sektor yang menunjukkan pertumbuhan investasi, meskipun hal ini dapat mengalihkan modal dari sektor energi.

Dalam laporan ini juga ditemukan China telah mengalahkan Jepang dan Amerika Serikat sebagai negara terdepan dalam paten energi sejak 2021, dengan fokus hampir seluruhnya pada teknologi rendah emisi. 

Paten global untuk teknologi rendah emisi sejak tahun 2000 tumbuh 4,5 kali lebih cepat daripada paten untuk bahan bakar fosil. 

Sementara itu, Amerika Serikat mempertahankan portofolio inovasi yang beragam di sektor energi fosil dan energi bersih, dan Eropa lebih aktif dalam mengembangkan proyek rekayasa berskala besar.

Proyek-proyek demonstrasi teknologi energi skala besar sangat penting untuk mengomersialkan teknologi baru. Hingga dekade ini, pendanaan publik dan swasta yang dialokasikan untuk proyek tersebut telah mencapai sekitar US$60 miliar. 

Namun, sebagian besar proyek ini masih menghadapi penundaan karena inflasi dan ketidakpastian kebijakan, dan 95% pendanaan terkonsentrasi di Amerika Utara, Eropa, dan China.

IEA mengingatkan, untuk menjaga momentum inovasi energi diperlukan kebijakan yang lebih fokus pada peningkatan belanja R&D energi publik, serta dukungan terhadap pengembang teknologi melalui siklus ekonomi. 

Kerja sama internasional juga sangat dibutuhkan untuk mempercepat pengembangan dan pemasaran proyek demonstrasi energi bersih. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper