Perusahaan Jepang-Indonesia Jajaki Kerja Sama JCM untuk Proyek Restorasi Lahan Basah

Empat perusahaan Jepang-Indonesia menandatangani MoU untuk studi JCM pada proyek restorasi lahan basah, mendukung target iklim dan investasi hijau.
Suasana MOU Perusahaan Jepang-Indonesia dalam kerja sama untuk proyek restorasi lahan basah./Bisnis-Andhika
Suasana MOU Perusahaan Jepang-Indonesia dalam kerja sama untuk proyek restorasi lahan basah./Bisnis-Andhika
Executive Brief
  • Empat perusahaan dari Jepang dan Indonesia menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk studi kelayakan mekanisme kredit bersama (JCM) pada proyek restorasi lahan basah di Indonesia.
  • Kerja sama ini bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca, meningkatkan serapan karbon, dan mendukung target Perjanjian Paris bagi Indonesia dan Jepang.
  • MoU ini akan berlangsung selama enam bulan untuk mengembangkan metodologi baru yang selaras dengan kebijakan iklim nasional dan memberikan manfaat bagi lingkungan serta masyarakat lokal.

* Executive Brief ini dibantu dengan menggunakan AI

Bisnis.com, JAKARTA - Empat perusahaan lintas negara resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk melaksanakan studi kelayakan penerapan mekanisme kredit bersama (JCM) pada proyek restorasi dan konservasi lahan basah (WRC) di Indonesia.

Dua perusahaan yang melakukan MOU berasal dari Jepang yaitu, Inpex Corporation dan Sustainacraft Inc. Sementara itu PT Merdeka Sejahtera Persada dan PT Jaga Planet Indonesia mewakili Indonesia.

Kesepakatan ini menandai langkah penting dalam pengembangan proyek berbasis alam yang bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca, meningkatkan serapan karbon.

Selain itu, tindakan mitigasi dan strategi ini dirancang untuk mendukung pencapaian target Indonesia dan Jepang di bawah Perjanjian Paris.

President Director PT Merdeka Sejahtera Persada (Dassa), Sylviana Andhella, mengatakan kerja sama tersebut sekaligus membangun fondasi investasi hijau masa depan. Mengingat saat ini belum ada metodologi JCM yang secara spesifik mengakomodasi proyek restorasi lahan basah dan konservasi (WRC).

"Kami membawa pengalaman lebih dari satu dekade dalam desain dan implementasi proyek karbon. Kolaborasi ini membuka peluang besar untuk membawa praktik terbaik internasional ke dalam mekanisme JCM," ujar Sylviana, Selasa (14/10/2025).

Saat ini, belum ada metodologi penerapan mekanisme kredit bersama yang secara spesifik mengakomodasi proyek restorasi lahan basah dan konservasi (WRC).

Melalui kerja sama ini, para pihak akan mengembangkan metodologi baru yang selaras dengan kebijakan iklim nasional, standar pemantauan, pelaporan, dan verifikasi, serta memberikan co-benefits bagi lingkungan dan masyarakat lokal.

MoU ini akan berlangsung selama enam bulan sebagai tahap awal untuk menilai potensi penerapan JCM pada proyek WRC.

Apabila studi kelayakan berhasil, langkah berikutnya adalah menyusun perjanjian definitif, termasuk mekanisme pembagian manfaat, prioritas investasi, serta peluang penjualan kredit karbon di pasar internasional.

Kolaborasi lintas negara dan lintas sektor ini diharapkan menjadi tonggak dalam percepatan aksi iklim, sekaligus mendukung transisi energi bersih dan konservasi ekosistem penting di Indonesia.

Add Bisnis.com as a preferred source on Google

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Thomas Mola
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro