Bisnis.com, JAKARTA — Draf awal kesepakatan dalam perundingan iklim PBB COP30 yang disusun tuan rumah Brasil berpotensi tidak mengakomodasi desakan dari sekitar 80 negara untuk memperkuat rencana transisi dari bahan bakar fosil.
Brasil dijadwalkan menyampaikan draf lanjutan kesepakatan tersebut kepada para delegasi pada Kamis (20/11/2025). Namun, penyampaiannya terpaksa tertunda setelah kebakaran pada Kamis siang memaksa evakuasi lokasi konferensi.
Draf keputusan mutirão yang akan dirilis kemungkinan tidak mencantumkan penyusunan peta jalan (road map) transisi bahan bakar fosil, menurut sejumlah sumber yang mengetahui proses tersebut dikutip dari Bloomberg.
Negara-negara dengan kebijakan iklim lebih progresif menilai peta jalan tersebut merupakan langkah lanjutan yang esensial untuk menindaklanjuti komitmen dua tahun lalu pada COP28 untuk bergerak menjauhi minyak, gas, dan batu bara.
Brasil disebut masih melakukan diplomasi intensif antarnegara, dan teks rancangan masih dapat berubah sebelum dipublikasikan. Para sumber meminta tidak disebutkan namanya karena pembahasan masih berlangsung.
Dorongan untuk keluar dari ketergantungan pada bahan bakar fosil sejak lama menjadi salah satu isu paling kontroversial dalam perundingan iklim tahunan PBB. Presiden COP30 André Corrêa do Lago sebelumnya menyatakan terdapat “resistensi signifikan” terhadap kesepakatan yang memuat langkah-langkah lanjutan untuk menjauhi energi fosil.
Baca Juga
Puluhan negara telah menyampaikan keberatan, menurut salah satu sumber. COP30 dijadwalkan berakhir Jumat malam (22/11/2025), meskipun perundingan biasanya berlangsung melewati batas waktu. Kesepakatan akhir harus diadopsi melalui konsensus.
Kolombia, salah satu pendukung utama penyusunan peta jalan bahan bakar fosil, diperkirakan akan meluncurkan deklarasi dukungan pada Kamis. Uni Eropa, Inggris, dan sejumlah negara lain juga masih mendorong adanya jalur transisi yang lebih tegas, menurut seorang sumber lain.
UE pada Rabu mengajukan usulan pembentukan “mutirão road map” untuk mempercepat transisi energi, sebagai tindak lanjut komitmen dua tahun lalu untuk mengalihkan sistem energi dari bahan bakar fosil.
“Kami sepenuhnya mendukung peta jalan tersebut. Kita perlu menjaga ambisi tetap tinggi dalam menurunkan emisi. Komitmen ini memerlukan implementasi nyata,” kata Komisaris Iklim Uni Eropa Wopke Hoekstra pada Rabu malam.
Perdebatan mengenai bahan bakar fosil telah berulang kali memuncak di akhir perundingan. Pada COP28 di Dubai, Presidensi Uni Emirat Arab sempat merilis draf teks yang tidak memuat pembahasan apa pun tentang pengurangan penggunaan energi fosil.
Hal itu memicu penolakan dari mayoritas negara dan akhirnya mendorong dimasukkannya komitmen tersebut dalam kesepakatan akhir.